Jadi orang jangan terlalu idealis,kayak gue.idealis,akibatnya susah bisa beradaptasi dengan tiap lingkungan yang jatuh kepada kita.kata orang,idealis sih boleh,tapi ya harus realita minded juga.idealis pas ketemu dengan realita yang sesuai mah itu namanya hoki..itu kata bos aku,bukan gue loh.Tinggal di indonesia,chance untuk mengembangkan,memjembatani,memwadahi sifat idealis itu mah susah,susah banget lah,lain dengan amerika.negara dengan sejuta impian,obama aja bisa jadi presiden.Indonesia?ini aja di haram,itu di fatwa,boro-boro.no money,go away,siapa loe?ada uang,bibir loe manyun pun orang-orang lengketin kayak prangko.indonesia?semuanya UUD.kembali ke idealis,ya sebagian kecil manusia itu,bukan tipe manusia easy going.mungkin ya gue sebutnya kaum minoritas.orang gampang bilang di bawa enjoy aja,ye,kalo gue bilang itu kan loe,mang loe sama dengan gue?ngak kan.ada orang yang di cap aneh,ada yang bilang unik,ya whatever,terserah apa kata orang.yang jelas mereka-mereka ini emang aneh,dan unik,itu lazim ia memandang dan berkutat dalam sebuah habitat.jadi kalau aku bilang,aku idealis,dan aku tersiksa,orang bilang aku begok,stress kok di pelihara,yang gampang gak mau,kok malah senang yang njelimet,yang bikin garis-garis kepala keluar buat mikirin,sastra,filsafat,dengar aja udah takut..makanya indonesia buku sastra gak laku,hanya kaum minoritas,orang yang di cap aneh,unik yang mau baca.Lain dengan negara barat,amerika dan eropa,disana tingkat apresiasi masyarakat terhadap seni sangat tinggi,lihat saja tiap tahun bagaimana semangatnya masyarakat jerman dalam pameran buku frankfurt,jerman.lihat saja bagaimana seni,cita rasa seni yang mereka tuangkan di jalan-jalan dalam bentuk patung ataupun desain gedung nan unik.
Di indonesia,jangankan bagi yang belom bersinar,bersinar pun kalau gak smart untuk mengelolanya aja,ujung-ujungnya jadi gembel.liat aja mantan olahragawan yang telah berhasil sumbangkan jasa kepada negara,sekarang banyak yang hidup jadi gembel,ironis memang.Disini,you have money,you be somebody,you have no money,you be nobody.
jadi...maksod loeeeeeeeee?ya gitu deh..back to idealisme,hehe,kayak tukul aja.Pekerja seni itu kebanyakan idealis tinggi,seorang penulis yang hidup dalam dunia kekritisan/vocal terhadap dunia yang bertentangan dengan rasa-rasa idealisme,jiwa rebel atau pemberontak dalam diri mereka tidak akan pernah hilang,selalu melekat kemanapun mereka pergi.Sadar,idealisme itu terkadang menyiksa rasa batin itu sendiri,namun tidak gampang kita menghilangkannya.soe hok gie contohnya,seorang pejuang demokrasi yang sampai bertanya kepada dirinya sendiri,dan seorang temannya menasehatinya"kamu sudah dilahirkan untuk selalu berpikir kritis,terimalah takdirmu."kira kira begitu.Saya bisa merasakan betapa dalam situasi tertentu mereka sebenarnya juga merasa tersiksa dengan sisi idealisme mereka.Iulah kenapa seorang penulis selalu berteman dan bermain bersama kata dan topik nan berat,seorang pencipta lagu selalu harus menekan perasaannya sampai seektrem mungkin untuk menjiwai sebuah perasaan sampai muncul rasa itu sendiri,seorang pelakon juga sama,sebelum memerankan sebuah tokoh,berusaha menguasa naskah yang di sodorkan,meresapinya ke dalam jiwa,sampai seorang aktor yang profesional,saat memerankan seorang tokoh,sampai harus melepaskan sementara sisi dia sendiri,dan berusaha benar-benar memasukkan karakter si tokoh ke dalam tubuhnya,apakah mereka bahagia?mungkin,tapi mereka menikmati kebahagiaan dengan cara yang tidak sama,tidak lazim seperti bagaimana orang biasa menikmatinya.
Saat loe ditanya bagaimana rasanya coklat itu?bagaimana kamu menjelaskannya..gak bisa kan.Hanya dengan kamu sodorkan secangkir coklat,lalu loe bilang"u minum deh,u bakal tahu rasanya".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar